Selasa, 22 Januari 2013

K O L O I D

hey hey, berhubung udah masuk semester dua di kelas XI pasti deh banyak tugas yang sudah mulai menunggu. Nah, gue mau sedikit share tentang tugas Kimia gue yang Bab Koloid nih guys. cekidot yaaa =)

I.              Pengertian Sistem Koloid

Sistem koloid adalah campuran antara campuran homogen dan campuran heterogen. Diameter partikel koloid lebih besar daripada partikel larutan sejati, tetapi lebih kecil daripada partikel suspensi kasar. Partikel koloid mempunyai diameter lebih besar daripada 10–7 cm(100nm) dan lebih kecil daripada 10–5(1 nm) cm atau antara 1–100 nm (1 nm = 10–9 m = 10–7 cm). Partikel koloid dapat menembus pori-pori kertas saring tetapi tidak dapat menembus selaput semipermeabel.

II.           Pembuatan Sistem Koloid
A. Cara Kondensasi
Dengan cara kondensasi, partikel larutan sejati (molekul atau ion) bergabung menjadi partikel koloid. Cara ini dapat dilakukan dengan reaksi-reaksi kimia, seperti reaksi redoks, hidrolisis, dan dekomposisi rangkap, atau dengan pergantian pelarut.
1.      Reaksi Redoks
Reaksi redoks adalah reaksi yang disertai perubahan bilangan oksidasi.
CONTOH :
a. Gas H2S dialirkan dalam larutan SO2 membentuk sol belerang
2H2S + SO2 → 2H2O + 3S
b. AuCl3 dimasukkan dalam air dan dipanaskan sera ditambah formalin encer akan terbentuk sol logam (sol emas)
2 AuCl3 + 3 H2 O + 3HCOH → 2Au + 6HCl + 3HCOOH
2.      Hidrolisis
Hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air.
Contoh : pembuatan sol Besi(III)hidroksida, sol Al(OH)3
Sol besi (III)hidroksida dibuat dari larutan FeCl3 dengan air mendidih.
FeCl3(aq) + 3 H2O(l) Fe(OH)3(s) + 3 HCl(aq)
Coklat
AlCl3(aq) + 3 H2O(l) Al(OH)3(s) + 3 HCl(aq)
Putih

3.      Dekomposisi Rangkap
4.      Penggantian Pelarut
              Selain dengan cara-cara kimia seperti di atas, koloid juga dapat terjadi dengan penggantian pelarut.

B. Cara Dispersi
Dengan cara dispersi, partikel kasar dipecah menjadi partikel koloid. Cara dispersi dapat dilakukan secara mekanik, peptisasi, atau dengan loncatan bunga listrik (cara busur Bredig).

1.         Cara Mekanik
Menurut cara ini, butir-butir kasar digerus dengan lumping atau penggiling koloid sampai diperoleh tingkat kehalusan tertentu, kemudian diaduk   dengan medium dispersi.
2.         Cara Peptiasi
Peptisasi adalah cara pembuatan koloid dari butir-butir kasar atau dari suatu endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi (pemecah). Zat pemeptisasi memecahkan butir-butir kasar menjadi butir-butir koloid. Istilah peptisasi dikaitkan dengan peptonisasi, yaitu proses pemecahan protein (polipeptida) yang dikatalisis oleh enzim pepsin.
3.         Cara Busur Bredig
Cara busur Bredig digunakan untuk membuat sol-sol logam. Logam yang akan dijadikan koloid digunakan sebagai elektrode yang dicelupkan dalam medium dispersi, kemudian diberi loncatan listrik di antara kedua ujungnya. Mula-mula atom-atom logam akan terlempar ke dalam air, lalu atom-atom tersebut mengalami kondensasi, sehingga membentuk partikel koloid. Jadi, cara busur ini merupakan gabungan cara dispersi dan cara kondensasi.
4.         Homogenisasi
Dengan menggunakan mesin homogenisasi.
Contoh                        :
–emulsi obat di pabrik obat dilakukan dengan proses homogenisasi.
– Pembuatan susu kental manis yang bebas kasein dilakukan dengan mencampur kan serbuk susu skim ke dalam air dengan menggunakan mesin homogenisasi.

a. Komponen Penyusun Koloid
            Sistem koloid tersusun atas dua komponen, yaitu fasa terdispersi dan medium dispersi atau fasa pendispersi. Fasa terdispersi bersifat diskontinu (terputus-putus), sedangkan medium dispersi bersifat kontinu. Pada    campuran susu dengan air yang disebut di atas, fasa terdispersi adalah susu, sedangkan medium dispersi adalah air. Perbandingan sifat antara larutan, koloid, dan suspensi disimpulkan dalam tabel berikut ini.
Larutan
(Dispersi Molekuler)
Koloid
(Dispersi Koloid)
Suspensi
(Dispersi Kasar)
Homogen, tak dapat dibedakan walaupun menggunakan mikroskop ultra
Secara makroskopis bersifat homogen, tetapi heterogen jika diamati dengan mikroskop ultra
Heterogen


Semua partikel berdimensi (panjang, lebar, atau tebal) kurang dari 1 nm
Partikel berdimensi antara 1 nm sampai 100 nm
Salah satu atau semua dimensi partikelnya lebih besar dari 100nm
Satu fasa
Dua fasa
Dua fasa
Stabil
Pada umumnya stabil
Tidak stabil
Tidak dapat disaring
Contoh: larutan gula, larutan garam, spiritus, alkohol 70%, larutan cuka, air laut,
udara yang bersih, dan bensin
Tidak dapat disaring, kecuali dengan penyaringan ultra
Contoh:
sabun, susu, santan, jeli, selai, mentega, dan mayones
Dapat disaring
Contoh:
air sungai yang keruh, campuran air dengan pasir, campuran kopi dengan air, dan campuran minyak dengan air

III.         Klasifikasi Sistem Dispersi Koloid
Dalam sistem koloid, fase dispersi dan medium pendispersi dapat berupa zat padat, zat cair, atau gas.
Berdasarkan hubungan antara fase dispersi dengan medium dispersi, macam sistem koloid dapat dibagi menjadi:
No.
Fase terdispersi
Fase Pendispersi
Nama sistem koloid
Contoh sistem koloid
1.
Cair
Gas
Aerosol cair
Kabut, awan
2.
Cair
Cair
Emulsi
Air susu, santan
3.
Cair
Padat
Emulsi
Jelly, mutiara, keju
4.
Padat
Gas
Aerosol padat
Asap, Debu di udara
5.
Padat
Cair
Sol
Cat, Tinta, kanji
6.
Padat
Padat
Sol padat
Kaca berwarna, intan hitam
7.
Gas
Cair
Busa, buih
Buih sabun, krim krim kocok
8.
Gas
Padat
Busa padat
Batu apung, karet busa




1.       Aerosol
Aerosol adalah sistem koloid dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas. Jika zat yang terdispersi berupa zat padat disebut aerosol padat. Sedangkan jika zat yang terdispersi berupa zat cair disebut aerosal cair.
Contoh aerosol padat: asap dan debu dalam udara
Contoh aerosol cair: kabut dan awan
2.      Sol
Sol adalah sistem koloid dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam zat cair
Contoh sol: air sungai adalah sol dari lempung (tanah liat) dalam air, sol sabun, sol detergen, sol kanji, tinta tulis, dan cat.
3.      Emulsi
Emulsi adalah sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair lain.
Ada dua macam emulsi, yaitu:
  • Emulsi minyak dalam air (M/A); contohnya santan, susu, dan lateks.
  • Emulsi air dalam minyak (A/M); contohnya mayonnaise, minyak bumi, dan minyak ikan.
4.      Buih
Buih adalah sistem koloid dari gas yang terdispersi dalam zat cair. Contohnya buih sabun.

5.      Gel
Gel adalah koloid yang setengah kaku (antara padat dan cair). Contohnya agar-agar, lem kanji, selei, gelatin, gel, sabun, dan gel silika.

IV.        Sifat-sifat koloid
Beberapa sifat-sifat koloid yang khas, yaitu:
a.       Efek Tyndall
Efek Tyndall adalah suatu efek penghamburan berkas sinar oleh partikel-partikel yang terdapat dalam sistem koloid, sehingga jalannya berkas sinar terlihat.
b.      Gerak Brown
Gerak Brown adalah gerakan terpatah-terpatah (gerak zig-zag) yang terus-menerus dalam sistem koloid
c.       Diffusi dan Filtrasi
Partikel koloid lebih sulit berdifusi bila dibandingkan dengan larutan sejati. Hal ini disebabkan ukuran partikel koloid lebih besar dibandingkan dengan partikel larutan sejati. Selain itu ukuran partikel koloid juga menyebabkan partikel koloid tidak dapat disaring dengan kertas biasa, tetapi harus dengan penyaring ultra.
Adsorpsi
Adsorpsi adalah proses penyerapan zat/partikel/molekul pada permukaan diri zat tersebut sehingga koloid akan memiliki muatan listrik. Antara partikel koloid dengan ion-ion yang diadsorpsi akan membentuk beberapa lapisan, yaitu:
                                                                    i.      Lapisan pertama ialah lapisan inti yang bersifat netral, terdiri atas partikel koloid netral.
                                                                  ii.      Lapisan ion dalam ialah lapisan ion-ion yang diadsorpsi oleh koloid.
                                                                iii.      Lapisan ion luar
d.      Kesetabilan koloid
Kesetabilan kolid ditentukan oleh muatan listrik yang dikandung partikel koloid. Muatan listrik dapat dilucuti, misalnya dengan penambahan zat yang bersifat elektrolit, akibatnya akan terjadi penggumpalan koloid atau pengendapan koloid
e.       Elektroforesis
Elektroforesis adalah peristiwa pemisahan koloid yang bermuatan. Partikel-partikel koloid yang bermuatan dengan bentuan arus listrik akan mengalir ke masing-masing elektroda yang bermuatannya berlawanan. Partikel yang bermuatan positif bergerak menuju ke elektroda positif.
f.       Koloid Pelindung
Koloid pelindung adalah koloid yang dapat melindungi koloid dari proses koagulasi atau penggumpalan. Ada beberapa koloid pelindung yang digunakan pada emulsi, misalnya casein dalam susu. Jenis koloid ini disebut emuglatol.
g.      Dialisis
Dialisis adalah proses penyaringan koloid dengan menggunakan kertas perkamen atau membran yang diletakan di dalam air yang mengalir
h.      Koloid Liofil dan koloid Liofob
Umumnya terjadi pada koloid yang fase terdispersinya padatan dan mediumnya cairan atau berupa sol, sehingga lebih dikenal sebagai sol liofil atau sol liofob.
Sol liofil adalah sol di mana fase terdispersinya senang akan medium pendispersinya (senang akan cairan) atau di katakan juga afinitas atau daya tarik terhadap mediumnya sangat kuat.
Sol liofob adalah kebalikan dari sol liofil, di mana partikel fase terdispersinya kurang/tidak senang akan cairannya (mediumnya).
Perbedaan antara koloid liofob dengan koloid liofil dapat disimak pada tabel dibawah ini.
No.
Koloid liofil
Koloid liofob
1.
Partikel tidak dapat dilihat dengan microscope ultra
Partikelnya dapat dilihat denan microscope ultra
2.
Tidak menunjukan peristiwa elektroforesis
Menunjukan peristiwa elektroforesis
3.
Tidak mengalami koagulasi bila diberi sedikit elektrolit
Mengalami koagulasi jika diberi elektrolit
4.
Memiliki viskositas besar
Viskositas mirip medium pendispersinya
5.
Tegangan permukaan kecil
Tegangan permukaan mirip medium pendispersinya
6.
Tidak menjukan gerak brown
Menunjukan gerak brown yang jelas
7.
Pada penguapan atau pendinginan menghasilkan gel, yang akan membentuk sol lagi bila diberi medium pendispersinya
Pada penguapan atau pendinginan akan menghasilkan koagulasi, tidak membentuk sol kembali bila diberi medium pendispersinya.

V.                Koloid Dalam Kehidupan Sehari-hari

Sistem koloid sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Koloid banyak kita jumpai pada makanan, kosmetik, dan obat-obatan. Koloid pada makanan misalnya minyak ikan, jelly, susu, santan, mayones, dan lain-lain. Sedangkan koloid pada kosmetik adalah dapat berupa lotion atau krem. Koloid pada obat-obatan biasanya dalam bentuk sirup

Source :

Semoga bermanfaat. Good Luck :D

Selasa, 23 Agustus 2011

ANALISIS PENDEKATAN KERUANGAN, KEWILAYAHAN DAN EKOLOGI

BAB 1
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG

Banyaknya pemukiman kumuh dan gepeng (gelandangan dan pengemis) di DIY sudah sangat mengganggu kenyamanan dan keindahan kota. Oleh karena itu, perlu diadakannya penelitian atau pengkajian untuk memecahkan masalah sosial tersebut. Menggunakan ilmu geografi, kami akan mengkaji beberapa alternatif cara untuk mengurangi atau meminimalisir masalah tersebut. Kesenjangan sosial yan masih melekat pada masyarakat juga salah satu sebab terjadinya permasalahan tersebut.

B.     RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian masalah diatas. Maka dapat ditarik beberapa rumusan masalah, yaitu:
1.      Bagaimana cara mengurangi pemukiman kumuh dan gepeng di wilayah Yogyakarta?
2.      Bagaimana cara supaya masyarkat dapat menggunakan struktur ruang di Yogyakarta secara tepat?
3.      Apa saja SDA yang dapat di manfaatkan supaya bisa membentuk lapangan pekerjaan baru?


C.     TUJUAN PENELITIAN

Tujuan diadakan penelitian, yaitu :
1.      Mengurangi pemukiman kumuh dan gepeng yang ada di DIY dan sekitarnya.
2.      Memanfaatkan SDA yang ada di lingkungan sekitar untuk membuka lapangan pekerjaan baru.
3.      Mengurangi angka pengangguran di DIY.
D.    MANFAAT PENELITIAN

1.      Masyarakat tinggal secara teratur dan tidak mengganggu kenyamanan kota.
2.      Masyarakat dapat memanfaatkan lahan dan SDA di lingkungan sekitarnya untuk ber wirausaha.
3.      Mengurangi angka kemiskinan.
4.      Memakmurkan kehidupan masyarakat.
















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pendekatan Analisis Keruangan

Dewasa ini, jumlah pemukiman kumuh dan gepeng (gelandangan dan pengemis) di pusat kota Yogyakarta semakin meningkat. Hal tersebut terjadi karena tidak meratanya persebaran penduduk di Yogyakarta dan kurangnya lapangan pekerjaan di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Bagaimana cara pemecahan masalah tersebut dengan analisis keruangan?

Untuk itu, diperlukan kerangka kerja studi secara mendalam tentang persebaran penduduk dan lapangan pekerjaan di Yogyakarta dan sekitarnya. Pada tahap pertama perlu dilihat struktur, pola, dan proses keruangan wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

Dalam hal ini kita mulai membahas tentang pemukiman kumuh dan gepeng di pusat kota Yogyakarta. Kita pasti sering melihat pemukiman kumuh di kawasan Kali Code. Hal tersebut sangat menggangu keindahan kota dan kenyamanan masyarakat. Sebenarnya banyak dampak yang di akibatkan oleh pemukiman kumuh tersebut, antara lain, di kawasan pemukiman kumuh itu pasti lingkungan sekitar tidak terjaga dan dapat menimbulkan berbagai penyakit.

Apalagi, di pusat kota Yogyakarta kita pasti menjumpai para gepeng (gelandangan dan pengamen). Contohnya, di Malioboro pasti kita menjumpai para pengamen yang sebenarnya dari segi fisik mereka masih mampu untuk bekerja dan mendapatkan uang dari hasil jerih payah kerja keras mereka, bukan hasil dari meminta-minta.

Pemukiman kumuh dan gepeng di Ygyakarta ada dan terbentuk karena beberapa sebab. Penyebaran penduduk yang kurang merata, mereka lebih memilih tinggal di pusat kota daripada di desa atau di pinggiran kota. Karena mereka menganggap bahwa hidup di kota lebih menjanjikan daripada hidup di desa. Dan para gepeng pun tidak berusaha untuk mencari pekerjaan, mereka hanya pasrah pada hidupnya dan tidak mau berusaha untuk lebih maju dan mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Sesungguhnya, apapun itu saat kita berusaha dengan maksimal dan disertai doa, dan kita percaya pada diri kita, kita bisa meraih apa yang kita ingkinkan. Tapi sifat tersebut tidak tertanam pada para gepeng.

Sebenarnya ada beberapa alternatif cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi pemukiman kumuh dan gepeng. Cara tersebut antara lain :
1.      Pemerintah menyelenggarakan program rumah susun untuk para penghuni pemukiman kumuh.
2.      Pemberian bekal kemampuan khusus secara gratis untuk para pemuda yang kurang mampu, supaya mereka tidak menjadi gepeng.
3.      Pemerintah juga dapat mengadakan pemerataan jumlah penduduk.
4.      Masalah ini terjadi karena rendahnya pendidikan masyarakat, sehingga pemerintah bisa membuat program pendidikan gratis untuk mereka yang sangat membutuhkan, tetapi program ini juga membutuhkan kerjasama dari masyarakat sekitar.
5.      Dibutuhkan sikap toleransi terhadap sesama supaya masyarakat bisa saling gotong royong untuk memakmurkan keadaan lingkungan sekitar.

Disini, struktur ruang di Yogyakarta dapat digunakan. Misal, di Kabupaten Bantul masih banyak lahan kosong dan dapat digunakan pemerintah untuk membangun rumah susun. Karena dari pengalaman yang saya dapat, rumah susun hanya terdapat di wilayah kodya. Di Kabupaten Bantul juga masih terdapat beberapa SDA yang bisa dimanfaatkan oleh masyakarat dan bisa memperbanyak lapangan pekerjaan.



B.     Pendekatan Analisis Ekologi
Masalah yang kita bahas adalah banyaknya pemukiman kumuh dan gepeng di Yogyakarta. Untuk mempelajari masalah tersebut dengan pendekatan ekologi dapat diawali dengan tindakan sebagai berikut :
1.      Mengidentifikasi kondisi fisik di tempat yang digunakan sebagai pemukiman kumuh.
2.      Mengidentifikasi gagasan, sikap, dan perilaku masyarakat setempat dalam mengelola alam sekitarnya.
3.      Mengidentifikasi system budi daya yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
4.      Menganalisis hubungan antara system budi daya dengan hasil dan dampak yang ditimbulkan.
5.      Mencari alternatif pemecahan atas permasalahan yang terjadi,
6.      Mengidentifikasi SDA apa yang dapat digunakan untuk membuka lapangan pekerjaan baru, supaya dapat mengurangi angka gepeng (gelandangan dan pengamen) di Yogyakarta.


C.     Pendekatan Komplek Wilayah

Pendekatan ini adalah kombinasi dari analisis keruangan dan analisis ekologi. Pada analisis ini dari analisis keruangan kita mendapat kesimpulan bahwa pemukiman kumuh di pusat kota Yogyakarta terjadi dikarenakan beberapa hal, antara lain persebaran penduduk yang kurang merata dan kurangnya lapangan pekerjaan. Hal tersebut sebenarnya bisa diatasi dengan kita memanfaatkan lingkungan sekitar. Dari alam yang kita miliki, kita bisa membuka lapangan pekerjaan baru dan dapat mengurangi angka kemiskinan yang ada serta dapat memakmurkan masyarakat.



BAB III
PENUTUP

Demikianlah hasil kerja kami, ada kurang dan lebihnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dari analisis kami tersebut, kami mendapat sebuah kesimpulan, yaitu :

Pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kewilayahana dalam kerjanya merupakan satu kesatuan yang utuh. pendekatan yang terpadu inilah yang disebut pendekatan geografi. jadi fenomena, gejala, dan masalah ditinjau penyebaran keruangannya, keterkaitan antara berbagai unit ekosistem dalam ruang. penerapan pendekatan geografi terhadap gejala dan permasalahan dapat menghasilkan berbagai alternatif- alternatif pemecahan masalah.




Rabu, 02 Maret 2011

Marquee Text Live - http://www.marqueetextlive.com

photo hosting

Pro Dan Kontra Penarikan Film Hollywod Di Indonesia

Pro dan kontra ditariknya film asing dari bioskop Indonesia terus berlanjut. Keputusan Hollywood melalui Motion Pictures Association (MPA) yang menghentikan peredaran film mereka di Indonesia karena pajak, dinilai pemerintah berlebihan.

Keputusan itu dinilai terlalu tergesa-gesa. Hal itu diungkapkan oleh Menbudpar Jero Wacik dalam jumpa pers tentang 'Kebijakan Perfilman Nasional dan Masalah Pajak Film Impor' di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Jakarta, Minggu (20/2).

Pemerintah juga melihat MPA tidak akan bersungguh-sungguh meninggalkan Indonesia. Jero Wacik menilai MPA tidak akan mungkin membekukan impor film asing ke Indonesia. Menurutnya, pasar Indonesia adalah pasar yang sangat bagus bagi importir film.

"Pasar kita 230 juta orang jadi tidak mungkin mereka melepaskan begitu saja, mereka punya produk dan kita punya pasar," terangnya.

Jero Wacik juga mengungkapkan pemerintah akan kembali membahas angka bea masuk film impor sebesar 23,75 persen dan pajak royalti senilai US$ 43 sen per meter rol film (sebelumnya US$ 20 sen) yang telah diedarkan.

"Apakah pantas pajak yang dipakai dengan hitungan per meter (US$) 20 sen? Apakah pantas semua? Kita tidak ingin mematikan importir film luar, karena tidak boleh kebijakan yang akhirnya menyengsarakan masyarakat, percayalah kita tidak berniat mematikan impotirnya," lanjutnya.

Rencananya, pada Rabu (23/2) lusa, Jero Wacik akan mengundang para importir film asing untuk membicarakan hal tersebut.

"Yang terbaik berapa yang mereka minta, kita dengarkan kita lihat, kita punya misi pasti ada pengorbanan, itu bukan target," ucapnya.

Namun siapa yang mengusulkan pajak film asing ditinggikan? Dilansir dari detik.com, Minggu (20/2), ternyata usulan tersebut berasal dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Alasannya, SBY ingin memajukan industri film nasional.

"Kejadian bermula ketika saya berbincang dengan Pak Presiden sehari sebelum rapat kabinet tahun lalu tentang perkembangan film nasional," ujar Jero Wacik.

Menurut pria asal Bali ini, SBY melihat industri film mulai menunjukkan kebangkitan dalam enam tahun terakhir. Hal itu terbukti dari banyaknya jumlah film nasional yang diproduksi setiap tahunnya.

"Presiden saat itu membaca keluhan Hanung Bramantiyo yang mengeluhkan tingginya biaya pembuatan film di Indonesia," jelasnya.

Dalam tulisan sines muda tersebut, lanjut Jero Wacik, Salah satu biaya yang harus ditanggung pembuat film adalah pajak pertambahan nilai sebesar 10 persen yang membuat industri film nasional kalah dengan film impor.

"Tolong ditata semua, termasuk perpajakannya," jelas Jero Wacik menirukan ucapan Presiden pada Sidang Kabinet akhir tahun lalu.

Mendapat perintah dari SBY, maka Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata bersama Kementerian Keuangan menyusun aturan yang memproteksi industri film lokal dirancang.

"Dalam rancangan tersebut pemerintah berencana membebaskan pajak produksi film dan menaikkan pajak film impor, sehingga film nasional dan film impor bisa bersaing," ujar Jero.

Rencananya, peraturan tersebut semula akan dikeluarkan pada akhir Maret tahun ini. "Kementerian Keuangan tiba-tiba menerbitkan aturan film impor sebelum paketnya selesai," ujarnya.

Masih menurut Jero, pasar Indonesia sangat terbuka untuk film Impor. Akan tetapi, film impor tentu harus membayar pajak dengan wajar.

"Selama ini pajak yang dibayarkan film impor lebih kecil dari yang dibayarkan film nasional," kata Jero Wacik.

Jero Wacik menjelaskan, pemerintah tidak mempunyai maksud untuk mematikan film impor. Ia menambahkan, kebijakan perfilman dan kebijakan perpajakan adalah hak pemerintah sepenuhnya.

"Paling lambat bulan depan selesai soal pengaturan film impor dan lokal. Kalau perlu saat hari film nasional 30 Maret sudah selesai," tegasnya.

Namun Jero Wacik mengingatkan, pemerintah bebas mengatur keputusannya tanpa harus tunduk pada tekanan-tekanan pihak asing. "Saya tidak mau dan tidak akan tunduk pada ancaman-ancaman," tegasnya.

Sementara aktor senior Deddy Mizwar menganggap kenaikan pajak dan bea masuk film impor sebagai hal yang wajar. Deddy pun mempertanyakan rasa nasionalisme para importir film itu.

"Saya tahu kalau importir MPA (Motion Pictures Association) itu juga orang Indonesia. Kenapa harus bermasalah dengan pajak? Kita hanya menegaskan untuk membayar pajak dengan benar, bukan menaikkan. Makanya itu saya mempertanyakan nasionalisme mereka," ujar Deddy.

Menurut Deddy, pajak yang dikenakan untuk film Hollywood cukup ringan. Apalagi jika dibandingkan dengan pajak yang harus dibayar para pembuat film nasional.

"Mereka kalau untung Rp 23,7 miliar hanya membayar Rp 200 juta, dibandingkan produksi film Indonesia sampai Rp 5 miliar dan harus dikenai pajak 10 persen," ucapnya.

Bintang film Tio Pakusadewo di kubu 'setuju' sikap Hollywood yang memilih mundur dari layar bioskop Indonesia. Justru itu menjadi babak baru untuk industri film Indonesia.

Industri film tanah air diberi tantangan untuk memenuhi kebutuhan hiburan rakyatnya sendiri, dalam hal ini di dunia layar lebar. Jika kontroversi tambahan bea masuk hak distribusi film impor, menurut Tio pemerintah sudah bertindak benar.

"Kalau besar kecilnya pajak biar pemerintah dan saya rasa juga sudah benar. Tinggal bagaimana menyikapi selanjutnya. Ya seharusnya pekerja film Indonesia harusnya senang dengan kondisi seperti ini. Diberi kesempatan untuk pasokan lebih banyak. Kalau (penonton Indonesia) nggak mau datang ke bioskop, karena mutunya juga jelek," kata Tio.

Momentum Hollywood mundur dari layar bioskop Indonesia, sebenarnya itu adalah ajang pembuktian. Apakah mampu Indonesia memenuhi kebutuhan bioskop?

"Good, kalau Hollywood mau cabut, ya cabut. Nggak masalah kok. Kalau masalahnya orang-orang yang terlibat di industri di bioskop yang diperdulikan, iya harus dipikirkan. Tapi dengan insan film, ini kesempatan baik untuk membuktikan ke Indonesia dan dunia bahwa kita bisa memenuhi kebutuhan bioskop, tapi balik lagi mutunya," ungkap Tio.

Dengan ditariknya film Hollywood di Indonesia juga berdampak pada ancaman kebangkrutan 21 Cineplex, belum lagi karyawan yang terkena PHK yang akan menambah tingkat pengangguran yang semakin tinggi di tanah air ini.

Jika film Hollywood ditarik berarti Indonesia hanya mengandalkan film- film dalam negeri saja. Lantas, apakah film dalam negeri dapat 'diandalkan'? Karena tak semua film dalam negeri mempunyai pesan moral yang bagus.

Apapun itu, pemerintah harus betul-betul memikirkan hal ini. Besar harapan masyarakat untuk kelanjutan masalah ini. Semoga pemerintah cepat mengambil tindakan.

Terlepas dari pro kontra, beberapa bioskop masih memutar film-film Hollywood. Seperti yang terlihat di Cinema 21 Royla Plasa Surabaya, Minggu (20/2) sore. Beberapa poster film-film asal negeri Obama itu masih terpajang. Bahkan animo penonton tak mengalami penurunan. (tim)
( masruroh )

Sumber : www.i-centro.com